Office : 021 - 741 80 54

Solusi Mudah Kebutuhan Keuangan Anda

Angsuran Ringan Dan Terjangkau

MENJAWAB KEBUTUHAN KREDIT ANDA

Urusan Kredit Jadi Lebih Mudah dan Praktis

Kepercayaan Anda Adalah Modal Utama Kami

SOLUSI CEPAT KEBUTUHAN DANA ANDA

Sepuluh Mitos Entrepreneur Yang Tidak Selalu Benar

20 -09-2014
Mitos 1: Entrepreneur bertumpu pada tindakan bukan pikiran
Entrepreneur Lebih berorientasi pada eksekusi, pelaksanaan, tindakan nyata. Akan tetapi saya juga sadari bahwa diperlukan sebuah pemikiran mendalam sebelum seorang entrepreneur bertindak.  Entrepreneur idealnya mampu menyeimbangkan antara 2 aspek ini: tindakan serta pikiran.

Mitos 2: Entrepreneurship ialah bakat yang tak bisa dipelajari
Seperti yang pernah diungkapkan Peter F. Drucker, saya juga yakin bahwa entrepreneurship adalah disiplin ilmu yang bisa dipelajari dan diterapkan semua orang di muka bumi. Memang ada sifat-sifat tertentu yang bisa ditemukan dalam kepribadian para entrepreneur sukses, namun entrepreneurship juga memiliki model, proses, dan studi kasus yang semuanya bisa ditelaah secara ilmiah dan dipelajari.

Mitos 3: Entrepreneur juga penemu
Tidak selalu benar. Entrepreneur tak selalu harus menemukan atau merancang produk baru. Meskipun banyak penemu juga seorang entrepreneur, tapi pada kenyataannya banyak entrepreneur memiliki banyak bidang yang mereka geluti.Yang paling penting ialah bahwa entrepreneurship mesti dipahami sebagai sebuah pemahaman menyeluruh mengenai perilaku inovatif dalam segala bentuk dan macamnya.

Mitos 4: Entrepreneur adalah mereka yang terasing dalam masyarakat dan sekolah
Asumsi bahwa entrepreneur ialah mereka yang tidak sesuai dengan lingkungan sosial dan akademis dilatarbelakangi oleh banyak ditemuinya pemilik bisnis yang melejit setelah ia tinggalkan bangku pendidikan atau dianggap eksentrik oleh orang-orang di sekitarnya. Ini tidak sepenuhnya benar karena ini bisa terjadi karena iklim dan spirit sekolah-sekolah kita masih belum siap mengenali bakat-bakat entrepreneurship dalam diri anak-anak didiknya.

Entrepreneur juga masih perlu pendidikan, baik formal dan informal, karena tantangan dalam bisnis terus berkembang. Pendidikan sepanjang hayat bagi entrepreneur adalah kewajiban jika tak ingin tergulung persaingan.
Mitos 5: Entrepreneur harus sesuai persyaratan
Mungkin Anda sudah banyak temukan banyak bacaan yang memuat karakteristik entrepreneur sukses. Saat Anda ingin menjadi entrepreneur sukses, Anda pun menjadikan daftar ini sebagai acuan ,dan saat Anda merasa tidak memenuhi sebagian syarat-syarat itu, Anda merasa gentar dan mengurungkan niat terjun berbisnis. Saya himbau jangan jadikan itu semacam patokan wajib, anggap saja sebuah panduan yang fleksibel.

Bagaimanapun juga tak satu pihak pun bisa menentukan apakah seseorang akan menjadi entrepreneur sukses atau tidak di masa depan. Anda sendiri yang bisa menjawabnya. Jika memang Anda lemah dalam beberapa aspek, jalinlah kerjasam dengan mereka yang memiliki kelebihan dalam aspek yang menjadi kelemahan Anda. Tak perlu menunggu menjadi sempurna untuk bisa merintis usaha.

Mitos 6: Uang mutlak diperlukan dalam membangun bisnis
Benar bahwa setiap bisnis perlu uang untuk berjalan. Tetapi saat Anda menganggap ada tidaknya uang sebagai satu-satunya faktor penentu kesuksesan, maka Anda harus mengubah pola pikir itu. Kita memang banyak temui perusahaan bangkrut secara finansial karena tak ada dana tetapi kita lupa bahwa sesungguhnya masalah keuangan yang muncul itu hanya indikator paling mudah dilrasakan dari memburuknya aspek-aspek lain dalam bisnis yang kita miliki.

Perencanaan yang buruk, kemampuan manajemen yang acak-acakan, komunikasi yang kurang, bisa jadi adalah akar masalah sebenarnya. Maka dari itu, jadikan kekayaan yang kita miliki sebagai sebuah alat bukan tujuan akhir.

Mitos 7: Entrepreneur mutlak perlu keberuntungan
Menemukan peluang yang tepat di saat yang tepat menjadi idaman bagi banyak entrepreneur. Sayangnya, banyak entrepreneur menganggap keberuntungan hanya sebuah kebetulan, minus kerja keras. Kenyataannya, keberuntungan juga merupakan sesuatu yang harus dibangun. Ia tak datang begitu saja menghampiri orang. Keberuntungan perlu dibangun dengan cara membangun kesiapan diri sebelum peluang emas mendatangi Anda.

Mitos 8: Entrepreneurship tak memiliki tatanan
Saya menemui banyak entrepreneur muda yang terlihat memiliki kepribadian periang dan penuh passion dalam menjalankan usaha mereka. Sekilas tak nampak kemampuan untuk mengatur. Padahal sebenarnya mereka memiliki sistemnya sendiri, dan sistem ini sering tidak bisa dipahami orang lain. Entrepreneur bukan sosok penuh kecerobohan yang asal menggarap peluang bisnis tertentu, mereka memiliki sistem berpikir yang unik, dan tak banyak dipahami orang kebanyakan.

Mitos 9: Mayoritas usaha baru pasti gagal
Banyak entrepreneur terjungkal sebelum mengecap keberhasilan. Kegagalan ini memang lazim dialami tetapi bukan itu yang paling penting. Hal terpenting dari kegagalan ialah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran di baliknya. Saat entrepreneur mampu mempelajari dan menerapkan pelajaran itu dalam langkahnya yang berikut, maka ia pun makin dekat dengan keberhasilan. Anggap saja sebagai proses yang harus dilalui dan dinikmati agar diri kita menjadi sosok pribadi yang pantas untuk menikmati sukses.

Mitos 10: Entrepreneur ambil risiko baru berpikir
Konsep resiko harus dipahami sebagai risiko yang sudah diukur sebelumnya. Diperlukan pengamatan, kalkulasi dan penelitian untuk mengukur risiko yang akan diambil. Inilah yang kurang dipahami banyak orang.


Sumber: ciputraentrepreneurship.com dan bisnis.com

Harga Mobil Terbang Ini Hanya Rp 4,6 Miliar, Tertarik?

15-07-2014Banderol Mobil Terbang Ini Cuma Rp 4,6 Miliar, Tertarik?
AMSTERDAM – Mobil terbang yang selama ini cuma sebatas angan, kini mendekati kenyataan. Perusahaan independen asal Belanda, Pal-V, mengungkapkan siap memasarkan mobil roda tiga yang bisa diajak terbang dengan ketinggian di bawah 4.000 kaki.
Berdasarkan lapran BBC Autos, (10/7/2014), mobil ini bakal mulai diproduksi akhir tahun ini, dan dipasarkan awal 2016 dengan banderol 395 dollar AS atau setara Rp 4,6 miliar. Produksi maksimal 150 unit per tahun.
Pal-V yang artinya Personal Air and Land Vehicle itu pada dasarnya mobil roda tiga. Banyak yang menyebut ini sejenis sepeda motor. Tapi apalah sebutannya, yang jelas mesin bertenaga 230 PS-nya bisa melesatkan kendaraan sampai 180 kpj.
Suspensi hidrolik membuat mobil bisa miring ketika belok dan memastikan pengendalian yang stabil dalam kecepatan tinggi.
Mesin dilengkapi propeler di bagian belakang dan atas yang akan muncul jika disetel mode terbang. Semacam ”Transformer”, bodi akan berubah untuk mengeluarkan propeler sebagai penggerak utama. Butuh waktu 10 menit untuk menyiapkan transformasi dari kendaraan darat ke udara.
Tidak seperti helikopter yang terbang secara vertikal, kendaraan ini butuh landas pacu 160 meter. Di udara, Pal-V bisa melaju 50 kpj.
Yang saat ini diperdepatkan adalah soal regulasi. Dengan konfigurasi ban dan model, kendaraan ini butuh regulasi baru untuk mengaspal. Faktor keselamatan juga menjadi pertimbangan, apakah perlu tes tabrak atau tidak.

Sumber: tribunnews.com

Hindari Terobos Genangan Banjir saat berkendara

14-07-2014
Jangan Nekat Terobos Genangan Air
Hujan masih terus turun hingga kini. Parahnya, kurangnya ruang hijau, buruknya sistem drainase, sampai kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat membuat air yang turun dari langit berpotensi besar menjadi banjir.  Kondisi ini tentu tidak layak buat pengendara motor dan mobil. Selain dapat merusak perangkat mesin hingga listrik di mobil, dan motor Anda, keselamatan jiwa Anda juga bisa terancam dibuatnya.
Karenanya, hindari berkendara menerobos banjir yang dapat merugikan Anda sendiri, apalagi bagi mobil yang memiliki ground clearance rendah seperti mobil Low Cost Green Car (LCGC). Pilihlah jalur yang benar-benar terhindar dari banjir/genangan air. Itulah cara berkendara yang paling aman dan selamat untuk Anda.
Namun, jika terlanjur, atau terjebak banjir, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan kerusakan yang mungkin terjadi. Sekali lagi, gunakan akal sehat demi keselamatan. Nekat bisa berujung petaka.

Sumber: autocarindonesia.com

 
Back To Top - Kembali Ke Atas